Tofan telah
sampai didepan rumahnya kemudian memasukinya, rumahnya tampak sepi mungkin
seisi rumah sudah tidur di kamarnya masing-masing. Dengan santai ia menuju
kamarnya sambil bersiul, dan saat ia hendak memutar gagang pintu kamarnya, ia
melihat bapaknya sedang melamun di kursi ruang keluarganya. Tadinya Tofan tidak mau
memperdulikannya dan memilih masuk ke kamarnya, namun karena ia merasa iba
kepada bapaknya iapun menghampiri bapaknya.
Tofan merasa
kasihan melihat bapaknya yang nampaknya
sedang memiliki banyak pikiran, itu terlihat dari raut wajah bapaknya yang
terlihat begitu gelisah dan sedang memegang kedua keningnya dengan kedua
tangannya dengan bertumpu pada pahanya. “Bapak kenapa?”, bapaknya terkaget
mendengar suara tofan dan kemudian mencoba menutupi kegelisahannya, “Eeeh.. kamu
Fan, enggak kok bapak gapapa cuma sedikit ngantuk aja”, “Bapak jangan bohong,
Tofan tau kok kalau bapak lahi banyak pikiran, coba Bapak ceritakan sama Tofan!”.
Bapak menghela nafas dan sedikit berfikir, “Pak jangan ragu-ragu Tofan siap
denger kok”, Tofan meyakinkan bapaknya yang nampak ragu, “Gini Fan sebenernya
bapak gak mau bikin kamu kepikiran sama masalah bapak, tapi kalau kamu maksa ya
sudah akan bapak ceritakan”.
Bapak
berpindah tempat duduk dan mendekati Tofan, kemudian bapak mengusap kepala
Tofan. “Kantor Bapak akan mengurangi beberapa pegawai yang sudah berumur, dan Bapakpun
nampaknya juga terancam dan akan kehilangan pekerjaan Bapak, tapi tadi sore ada
salah satu atasan bapak yang memberikan kabar baik sekaligus kabar buruk bagi
kita, dia mengatakan bapak akan tetap diberi pekerjaan tetapi Bapak akan di
mutasi ke kantor cabang di Bontang Kalimantan, dan keputusannya besok tetapi
Bapak dengar lusa Bapak harus sudah berangkat ke Bontang”, “Hah Bapak akan di mutasi ke Bontang, terus
Tofan gimana Pak, apa Tofan juga harus
ikut Bapak?”, Tofan terkejut mendengar perkataan bapaknya. “Maafkan Bapak Fan sepertinya
kamu harus ikut dengan bapak, karena Bapak akan mengumpulkan uang untuk modal
usaha kita nanti dan Bapak gak mungkin harus yang istilahnya mengisi dua dapur
sekaligus, sebenarnya Bapakpun sudah sangat mencintai rumah dan lingkungan kita”,
mendengar itu Tofan terasa seperti disambar petir jika ia harus pindah, maka
iapun harus pindah sekolah, dan jika ia harus pindah sekolah, ia juga akan
terpisah dengan Jessica yang menjadi belahan jiwanya, yang sudah lama sangat ia
cintai.
Tanpa
berkata-kata lagi ia beranjak menuju kamarnya, ia merasa sangat kecewa pada
bapaknya, dilain pihak Bapak merasa sangat bersalah karena telah menceritakan
masalahnya pada Tofan, “Fan maafkan Bapak, Bapak gak bermaksud bikin kamu
kecewa”, tanpa memperdulikan kata-kata bapaknya Tofan terus beranjak menuju
kamarnya. Tofan mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, ia
teringat dengan setiap kata demi kata yang bapaknya ucapkan tadi, ia merasa
bersalah karena tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Ia yakin menyadari
bapaknya tak menginginkan keadaan yang seperti ini. Di atas kasur itu Tofan
terus memikirkan peristiwa tadi hingga tertidur.Paginya saat ia akan berangkat
sekolah ia berniat untuk meminta maaf kepada bapaknya, namun ia tak menemukan
bapaknya, “Nanti sajalah” fikirnya, kemudian ia berangkat ke sekolah, mungkin
ini adalah hari terakhir ia di sekolahnya, karena kemungkinan besok ia sudah
akan pindah ke Bontang.
Bersambung....
nantikan episode terakhir hari sabtu ini, sedikit bocoran walau ini cerpen
humor namun akan memiliki akhir yang sedih
No comments:
Post a Comment