Wednesday, 26 August 2015

Bom Maut



            “Kring... kring... kring...”, jam bekker berbunyi, namun Cecep mencoba menutupi kepalanya dengan bantal. Tapi jam bekker itu terus berbunyi “kring... kring... kring..”, akhirnya cecep menyerah dan mengambil jam bekker tersebut, dan ia melihat jarum jam “Hah.. masih jam 3, pasti si kampret nih yang sengaja masang alarm jam segini, emang sialan nih punya kakak reseh kaya dia”, Cecep menggerutu sambil kembali menarik selimut untuk kembali tidur, karena masih terlalu pagi jika untuk melakukan aktivitas. Cecep mencoba memejamkan matanya namun sulit sekali untuk kembali tertidur, “Aduh.. susah banget nih buat tidur, gue isi dulu ajalah ini perut, lagipula cacingnya udah pada demo juga nih”.
            Akhirnya Cecep memutuskan untuk keluar kamar, dengan sempoyongan ia berjalan ke arah pintu. Saat memutar gagang pintu, dan mendorong pintu tersebut tiba-tiba ada sesuatu yang menjatuhi kepalanya. Ternyata itu seekor cicak yang mengenai sekitar kening dan matanya. “Bagus-bagus.... tau aja nih cicak gue lagi sial hari ini. Eeuuhh..”, Cecep melempar cicak itu ke sembarang arah, kemudian ia duduk di kursi makan yang berada di ruang keluarganya, memang ruang makannya terletak menyatu dengan ruang keluarganya.
            “Ada makanan apa nih..”, Cecep membuka perlahan tudung saji tersebut, terlintas dibenaknya. “Andaikan pas gue buka tudung saji ini isinya ada makanan-makanan bule misalnya burger, spageti, atau minimal pizza, boleh juga kentucky di pinggir jalan itu yang sering bikin gue ngiler pas pulang sekolah, kalau diliat-liat ouuhh.. krenyes.. krenyess..”, Cecep menghayal sampai-sampai ia tak menyadari tetesan demi tetesan mulai mengucur dari mulutnya yang tengah menganga dengan tatapan kosong. Ia tersadar ketika air liurnya ternyata telah membanjiri disekitar kursi yang ia duduki, “Apaan nih...? Air hujan...? padahalkan tadi malem gak turun hujan”. Ia menapak-napakan kakinya ke air yang ia sangka air hujan itu.
            Kemudian Cecep membuka tudung saji tersebut yang sempat terhenti ia buka akibat khayalannya, kemudian sekarang ia benar-benar membukanya dan nampaklah isi dari tudung saji tersebut yang nampaknya isi dari tudung saji tersebut tak sesuai harapannya, ternyata isinya adalah ubi rebus satu piring penuh yang ia ketahui direbus ibunya tadi malam. “Berharap dapet makanan bule malah dapet makanan lokal sekaligus pedalaman, nasib-nasib tapi lumayanlah bisa buat ganjel laper”, karena merasa lapar akhirnya Cecep menghabiskan seluruh ubi tersebut hingga piring nampak bersih. “Ternyata kalau lagi lapar ubi juga berasa kaya burger, hoaay... ngantuk juga akhirnya” karena haus Cecep mengambil gelas yang ada di ujung meja dan meminumnya tapi ia merasakan seperti ada yang yang bergerak-gerak di dalam mulutnya “Apaan nih, kok gerak-gerak gini” Cecep menyemburkan isi di mulutnya dan terlihat cicak yang tadi ia lemparkan, Cecep hanya mengernyitkan dahinya dan tak mau memperdulikannya,  akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan kemudian tidur.
            Cecep terbangun saat jarum jam menunjukan pukul 06.50, itu artinya waktunya begitu sedikit untuk berangkat ke sekolah, karena ia harus sampai ke sekolah dengan waktu tidak kurang dari 10 menit saja. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke kamar mandi dan  keluar 2 menit kemudian. Ia berlari kembali ke kamarnya dan memakai pakaian seragam yang begitu kusut karena belum sempat ia setrika, sambil mengenakan pakaian ia berlari menuju teras rumahnya, dan memakai sepatu sambil terus menggerutu, “Emang pada jahat nih semua orang rumah, bukannya bangunin gue”, setelah itu Cecep teringat saat tidur, ia seperti bermimpi mendengar suara hantu yang memanggil namanya sambil menggedor-gedor pintu, karena ia sangat penakut makannya ia menutupi kepalanya dengan bantal, dan menghiraukan suara tersebut, “Semua orang udah gak perduli lagi sama gue, terutama si kampret yang udah bikin gue bangun pagi”, Cecep terus menggerutu sampai ia selesai mengenakan sepatunya, kemudian ia segera berangkat ke sekolah yang terletak 100 meter dari rumahnya, namun sebelumnya ia sempat melirik ke arah jam dinding “Astaga.. udah jam tujuh kurang satu menit, jadi gue harus sampe ke sekolah gak boleh kurang dari satu menit, dan harus berlari dengan kecepatan.....eeuu.. 1,7 m/s”, sebelum ia berlari ia sempat menghitung berapa kecepatan lari yang harus ia lakukan dengan menghitung dalam sebuah buku kecil yang selalu ia bawa, karena ia termasuk anak yang cerdas dalam menghitung, kecerdasan itu ia dapat saat awal masuk smp ia sering di tipu teman-temannya yang menawarkannya untuk menitipkan uang jajannya dan jika Cecep ingin menjajankan uang tersebut maka temannya lah yang akan pergi ke kantin membelikan pesanan Cecep, dan mengembalikan kembalian yang seringkali diambil sebagian oleh temannya itu. Cecep ingin sekali menolak tapi jika ia tak ingin dikelitiki sampai nangis oleh teman-temannya ia harus melakukan hal itu. Kemudian setelah berhasil menghitung kecepatan yang harus ia lakukan, ia memasukan buku kecilnya dan melihat jam tangannya ternyata waktunya hanya 30 detik lagi, ternyata hitungannya tidak akan relevan ia sempat ingin mengambil buku kecilnya lagi untuk menghitung kecepatan yang harus ia tempuh namun dari jauh ia melihat pintu gerbangnya akan segera ditutup oleh Satpam penjaga sekolahnya.
            Dengan sekuat tenaga Cecep berlari, ia begitu semangat berlari dan terus berlari, ia terus berlari dan terlihat Satpam itu mulai menutup gerbang sekolahnya, Cecep semakin panik dengan hal itu. Tapi tiba-tiba ia terjatuh dan kakinya terperosok ke selokan, sebagian kaki kanannya tenggelam oleh lumpur selokan tersebut, dengan cepat ia mengangkat kakinya dan menyadari tali sepatunya belum sempat ia ikat, namun Cecep tak menghiraukan hal tersebut malah ia melanjutkan larinya secepat mungkin. Sedikit lagi ia akan sampai di depan gerbang sekolahnya, ia menginjak lagi tali sepatunya, akibatnya ia terguling beberapa saat sebelum akhirnya berhenti setelah tubuhnya menabrak gerbang dengan keras.
            Satpam yang saat itu tengah duduk posnya sambil mengorek kupingnya merasa kaget degan hal itu, akibatnya cutten bud yang ia pakai tertancap lebih dalam ke kupingnya. ”Aaah.. sialan siapa tuh?”. Satpam keluar sambil meringis kesakitan, Cecep ketakutan melihatnya “Ke..kenapa Pak?” Cecep sampai terbata-bata saat ia menyapa Satpam tersebut. “Diam kamu.. aahh..” Satpam itu membentak Cecep, setelah berusaha mengeluarkan cutten bud dari telinganya, akhirnya ia berhasil dan terlihat begitu banyak kotoran yang menempel pada cutten bud tersebut. Cecep merasa jijik melihatnya, itu terlihat dari raut wajahnya yang terlihat mual, “Pantesan susah ngeluarinya, ganjelannya aja banyak begitu”, Cecep berkata pelan mengomentari hal tersebut, tapi Satpam itu tetap mendengarnya. “Eh diam kamu, jam berapa ini kenapa bisa terlambat, mana bau lagi... hueek..”, Satpam itu menutup hidungnya, sambil terus berbicara. “Itu.. Pakk.. euu.. itu.. emm..”. Cecep merasa ketakutan apalagi melihat wajah sangar dengan kumis tebal yang menambah kegarangannya.
            Satpam itu mendekati Cecep dan menatapi tajam wajah Cecep, “Kamu tahukan gimana caranya siswa yang datang terlambat bisa masuk kesini?”, “Eng.. enggaa.. tau Pak..” Cecep ketakutan ditatap seperti itu, “Jadi kamu belum tahu, saya kasih tahu ya..! Kamu harus bayar tangan saya biar bisa ngebuka gembok ini, ngerti!”. “Tapi Pak saya gak punya uang”, mendengar hal itu Satpam kembali menatap tajam wajah Cecep. “Kalau begitu kamu harus membayar dengan cara lain” Satpam itu memegang telapak tangan Cecep kemudian mengepalkan sesuatu ke tangan Cecep. “Sekarang kamu pegang ini, dan kamu cuci di sana”, Cecep bingung apa yang di maksud Satpam itu, untuk menjawab rasa penasarannya perlahan ia membuka telapak tangannya. Ia tekaget sekaligus merasa jijik ternyata itu cutten bud milik satpam itu, “Ayo tunggu apa lagi, sekarang kamu cuci ini”, “Ta.ta.tapi Pak inikan harus di buang” Cecep sempat mual dibuatnya. “Enak aja sekarang yang beginian mahal tau, atau kalau kamu gak mau saya kelitikin kamu sampai nangis”, Satpam itu mengancam Cecep dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Cecep, membuat Cecep merasa geli dengan kumis tebal Satpam itu. “Ii..iya.. Pak, eeuu.. saya milih dikelitikin sampai nangis aja Pak, saya udah biasa dikelitikin sama temen saya dulu”, “Oke.. jangan salahin saya kalau nanti kamu gak berhenti-berhenti nangis sampai 7 hari 10 malem” Akhirnya Satpam itu membukakan gerbang dan mendekati Cecep, kemudian saat hendak mengulurkan kedua tangannya ke sebelah kanan dan kiri perut Cecep ada seorang Ibu yang lewat di depan gerbang, ibu itu sampai terheran-heran melihat tingkah laku Satpam itu, “Keliatannya sih maco tapi kok cucok kaya gitu iihh...”, Ibu itu kemudian pergi sambil mengangguk-anggukan bahunya.
            “Jangan disini, di pos saya saja”, Satpam itu malu di tatap si ibu seperti itu namun ia ingin terlihat sangar didepan Cecep, Satpam itu terlebih dulu berjalan ke arah pos satpam kemudian di ikuti Cecep dibelakangnya. Mereka kini telah ada di dalam pos satpam, Satpam itu mengisaratkan Cecep untuk lebih dekat padanya “Sekarang buka baju kamu”, “Ii..iya.. Pak”, kemudian Cecep membuka satu demi satu kancing baju seragamnya, kemudian menanggalkan bajunya. Satpam itu menatap tajam Cecep sambil mengepalkan pergelangan tangannya “Rasakan ini”, kemudian tanpa menunggu persetujuan Cecep, Satpam itu segera melancarkan aksinya menggelitiki Cecep, “Aaaaduhhh.... Pak.. aahh.. geliii...” Cecep merasa kegelian dengan hal itu,  namun Satpam itu tak menghiraukannya dan melanjutkan aksinya menggelitiki Cecep. “Rasakan ini, inikan yang kamu inginkan, hahaha..” Satpam itu tertawa bagaikan iblis yang sedang menyiksa Cecep, lama kelamaan kedua bola mata Cecep mulai mengeluarkan air mata, sempat terlintas di benak Cecep untuk menyerah namun ia memilih memegang ucapanya sebelumnya, karena ia yang memilih untuk dikelitiki daripada harus mencuci cutten bud yang penuh kotoran milik Satpam itu. Tapi tiba-tiba Cecep merasakan ada yang bergejolak di dalam perutnya, kemudian tak lama setelah itu tubuhnya mengejang seperti ada sesuatu yang mengalir dari perut ke arah bokongnya, Satpam itu keheranan melihat Cecep “Eeehh... kenapa kamu”, Cecep tak menjawabnya namun tiba-tiba ada sebuah suara yang tak mereka ketahui namun tak lama berselang disusul oleh bau yang begitu menyengat, “Eeeh bau apa ii..in.....ii..” Satpam itu tak mampu menyelasaikan kata-katanya karena ia tiba-tiba tak sadarkan diri akibat bau itu, Cecep yang melihat itu memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri kemudian masuk ke kelasnya yang kebetulan hari itu gurunya datang terlambat, ia duduk di kursinya dan menghela nafas panjang setelah terbebas dari satpam kejam itu.