Halo sobat, sedikit selingan dari saya. Cek this out
Pernahkah kalian saat pulang sekolah mendapati rumah kalian dalam keadaan sepi..? mungkin kalian akan menjawab, 'Pernah'. Namun pernahkah pada saat kalian pulang sekolah tak ada orang dirumah dan tak ada makanan di atas meja makan...? mungkin kalian juga akan menjawab pernah. Pada saat seperti ini apa yang akan anda lakukan..? mungkin sebagian dari kalian akan melakukan berbagai hal seperti menggalaukan keadaan, memasrahkan keadaan, atau mungkin menangis dan berteriak-teriak keluar rumah, atau mungkin seperti seiring berkembangnya kemajuan tekhnologi saat seperti ini kalian malah Update Status, "Adyuuh ci4al bingiits, pulang cek0l4h k4g4 ad4 m4kanan" mana update statusnya pake kalkulator lagi, saya jamin jika kalian melakukan hal seperti di atas, sampai lebaran monyetpun kalian akan tetap galau, artinya keadaan sama sekali tak akan bisa berubah.
Haha... just for fun.
maka dari itu saya akan memberikan tips untuk kalian semua, sekaligus membasmi kegalauan kalian dan pastinya membasmi kelaparan kalian juga. oke tanpa menunggu lebaran monyet ini dia tipsnya. silahkan di simak, cara membuat makanan sederhana namun bermakna, mudah tapi tetap nikmat, dan yang pasti bahan-bahannya pun mudah dicari di toko-toko sekitar rumah kalian.
Resep Membuat Oncom Goreng
Bahan-bahan:
- 1 papan oncom potong kotak
- 150 gr terigu
- air secukupnya
- 2 batang daun bawang, iris halus
- 1 ikat daun kemangi, petik kuntum
- minyak untuk menggoreng
Bumbu halus:
- 3 siung bawang putih
- garam secukupnya
- merica bubuk secukupnya
- penyedap rasa ayam secukupnya
Cara membuat:
- cuci bersih oncom lalu tiriskan
- buat adonan pencelup dan terigu yang di encerkan dengan air secukupnya (jangan terlalu kental/encer), masukan irisan daun bawang dan daun kemangi dan bumbu halus, cicipi rasanya dan sesuikan dengan selera.
- celupkan potongan oncom ke adonan pencelup lalu goreng dalam minyak panas, bolak-balik oncom agar matangnya merata
- angkat dan sajikan diatas pirinng.
Selamat mencoba! katakan bye pada galau dan lapar
Thursday, 29 January 2015
Saturday, 10 January 2015
Si Kecebong Mengejar Cinta episode terakhir
Setapak demi
setapak ia menyusuri jalan menuju sekolahnya, ia mengenang setiap kejadian yang
pernah terjadi disini, perasaan sedih mulai hinggap dalam pikirannya. Hari ini
adalah hari terakhir ia bertemu dengan teman-temannya, dan yang paling berat
adalah inilah saat terakhir ia akan melihat dan bertemu Jessica sebelum ia akan
meninggalkan tempat ini. Singkat cerita ia telah sampai di gerbang sekolahnya,
kesedihan kembali mengusik pikirannya begitu ia melihat teman-temannya yang sedang
duduk di serambi kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi, ia berjalan
menghampiri mereka. “Eh Fan kenapa lu, keliatannya kayak yang kurang semangat
gitu?”, tanya Rangga yang duduk paling ujung, “Eeh.. gapapa kok Ga”, sambil
Tofan duduk disebelahnya.
Teettt..
teeettt... bel berbunyi Tofan duduk dikursinya, saat ia sedang meletakan tasnya
di kursi tersebut Jessica berjalan melewatinya, tak ada reaksi apapun dari
Tofan ia hanya melirik, dan selebihnya ia memilih cuek. Tofan kembali harus
merasakan saat-saat yang berat dalam hidupnya, dengan hal itu Jessica merasa
aneh tak seperti biasanya, biasanya jika ia bertemu tofan pasti Tofan akan
selalu merayunya dan mengungkapkan kalimat-kalimat gombal yang biasanya selalu
membuat Jessica geli mendengarnya, tapi tidak dengan hari itu semuanya tampak
begitu berbeda.
Jessica yang
duduk tepat dibelakangnya malah menebak-nebak apa yang terjadi dengan Tofan, “Paling
dia gak dikasih duit tuh sama Emaknya, atau mungkin dia lagi sakit gigi jadi
gak banyak ngomong, eehh.. kenapa lagi gue mikirin dia terserahlah apa yang
terjadi sama dia itu bukan urusan gue”. Tapi sebetulnya hati kecil Jessica merasa
kasihan juga melihat Tofan yang tampak murung seperti itu, tapi dilain sisi ia
juga gengsi jika harus perduli pada Tofan. Teett... teett.. Bel berbunyi
menandaka kegiatan di sekolah hari itu berakhir, dan juga menandakan bahwa
itulah hari terakhir ia di sekolah.
Saat sedang
berjalan menuju keluar kelas, tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari
belakang. Tofan merasa terkejut karena ternyata itu adalah Jessica, “Eh Jes,
ada apa yah?” Tofan mencoba bersikap tetap cuek, “Eh enggak ada apa-apa kok, Cuma
kayaknya ada yang beda ya dari kamu?”, “Beda, Beda apanya? Gak ada yang beda
kok, tumben kamu mau ngobrol sama aku” Jessica merasa malu dengan perkataan
Tofan tersebut, “Eeh emm.. enggak kok, cuman mau nanya aja, ya udah yah aku mau
pulang dulu”. Jessicapun pergi dan mulai hilang dari pandangan matanya, saat
itu Tofan merasa semangat hidupnya hilang juga.
Singkat kata
Tofan telah berada di rumahnya, “Eh bapak kok jam segini udah pulang” sapa
Tofan melihat bapaknya yang sudah pulang tak seperti biasanya, “Ini Fan bapak
minta izin sama kantor buat pulang duluan, kan bapak harus menyiapkan barang-barang
dan ada beberapa berkas juga, karena tiket sudah di pesankan kantor dan kita
akan berangkat jam 9 pagi besok”, “Pak masalah itu Tofan minta maaf ya, Tofan
gak seharusnya bersikap seperti itu”. Bapak tersenyum dan mendekati Tofan
kemudian mengelus rambutnya, “Bapak ngerti kok, ini pasti berat bagi kamu,
apalagi kamu harus ninggalin siapa tuh namanya ayang Jejes ya?”, “Eh kok bapak
tau sih?” “Haha.. ya iyalah kamu kan sering mengigau manggil-manggil ayang
Jejes sambil nyiumin guling lagi”, “Ah bapak” Tofan tersipu malu dengan itu “Eh
iya pak, kan nanti Tofan pindah sekolah harus ada surat pindah sekolah dari
sekolah Tofan”, “Oh kalau itu semua sudah di urus sama Emak”, “Oh gitu”. Hari
itu mereka sekeluarga bekerja sama saling membantu membereskan barang-barang
mereka untuk dibawa ke Bontang.
Pagipun
telah tiba, mereka mulai mengumpulkan barang-barang yang akan mereka bawa di
ruang tamu. Kesedihan kembali menghampiri Tofan saat melihat teman-temannya
yang terlihat bersemangat menuju sekolah, sedangkan Tofan tengah bersedih akan
meninggalkan kampung yang telah menjadi arena bermainnya, dan juga teman-teman
yang telah lama ia kenal.
Tak terasa
jam di dinding berjalan begitu cepat, saat itu tepat pukul 8 pagi, mereka mulai
bergegas menuju bandara setelah sebelumnya Bapak mencari taxi yang akan mereka
gunakan untuk menuju bandara, dan dilain tempat Jessica merasa ada sesuatu yang
hilang dalam jiwanya melihat kursi di depannya kosong tak ada yang menduduki,
entah mengapa ia merasakan bahwa iapun mencintai Tofan. Hari itu Jessica sangat
gelisah di kelas, beberapa kali ia mengubap posisi duduknya tetapi semuanya
serba salah sampai akhirnya bel pulangpun berbunyi dan Jessica bergegas pulang.
Jessica
akhirnya sampai di rumahnya, tubuhnya terasa capai sekali, dan iapun merebahkan
tubuhnya di kursi ruang keluarganya dan menyetel televisi, saat itu ada
tayangan berita kecelakan taxi akibat rem blong di sekitar jl. Pahlawan. “Kasihan
banget yah itu orang mana sekeluarga lagi” Jessica mengomentari tayangan berita
tersebut kemudian kringg.. kringg.. handphone di sakunya berdering “Hallo Jes
mendingan lo cepet ke sini deh ke RS Citra Medika!” suara dari seberang sana
terdengar panik, “Emang ada apa Din?” ternyata itu adalah Dina teman sekelasnya,
“Tofan Jes Tofan” “Kenapa sama Tofan, kalau ngomong yang bener lu Din”, “Eeuu..
Tofan kecelakaan Jes”, “Jangan bercanda lu Din, jangan main-main kalau
ngomongg...” Jessica mulai meneteskan air matanya, tak disangka saat ia mulai
mencintai Tofan sesuatu yang buruk malah menimpa Tofan.
Dengan masih
mengenakan seragam smpnya ia buru-buru rumah sakit yang disebutkan Dina, di
dalam mobil ia terus menangis Jessica tak akan sanggup menghadapi kenyataan
terburuk yang akan menimpa Tofan, ia sangat mencintai Tofan dan menyesal telah
menyia-nyiakannya, bahkan telah sering berbuat kasar padanya.
Setibanya di
rumah sakit ia langsung menuju ruang ICU, dan saat ia berada tepat di depan
kamar Tofan terlihat kedua orang tua dengan beberapa luka dikepala dan
ditangannya dan ada beberapa teman sekelasnya disana, mereka tengah menangisi
Tofan dengan keadaan yang terlihat begitu parah. Emak Tofan berdiri dan
menghampiri Jessica, kemudian memeluknya “Neng kamu harus kuat apapun yang
terjadi, Tofan pernah bilang kalau dia sangat menyayangi dan mencintai kamu”,
Jessica menangis lebih keras dari sebelumnya “Jessica salah Mak, Jessica udah
menyia-nyiakan Tofan, Jessica malu sama Emak”, “Emak ngerti kok, Emak gak akan
nyalahin kamu Jes”.
Dokter
keluar dari kamar tersebut dengan keadaan lesu “Dok bagaimana dengan anak saya
dok?”, Bapak Tofan bertanya pada dokter dengan nada tinggi sambil ia terus
menangis. “Maaf Ibu Bapak saya harus menyampaikan kabar buruk ini pada kalian,
kemungkinan anak bapak dan ibu tak akan memiliki waktu lama lagi”, “Sekarang
kalian boleh mendekati pasien sambil berdoa memohon keajaiban”, mendengar itu
mereka menjadi semakin sedih, dan satu persatu masuk ke kamar sedangkan sebagian
menuju mushola yang ada.
“Fan ini aku
Fan kamu harus kuat, aku cinta kamu Fan, aku yakin kamu gak akan menyerah gitu
aja, Fan kamu harus kuat demi Emak kamu dan bapak kamu, dan juga demi aku”,
Tofan membuka kedua matanya dan tampaknya ia ingin bicara sesuatu, kemudian ia
membuka oksigen yang menutup mulut dan hidungnya, “Jes waa..lau nanti raga ini
taaa..k aa..kan ada di sampingmu, tapi percayaa..lah hati ini akan selalu
mencintaimu”, “Kamu jangan ngomong gitu Fan kamu pasti sembuh...” saat itu
Tofan terlihat sesak nafas, lalu Jessica mencoba memasangkan oksigen kembali
tetapi Tofan melarangnya, “Mak Ba..pak ma..afin Tofan yah, Tofan sering
ngelawan dan gak berbakti sa...ma kali..an, Tofan sayaang kkalii...an” Tofan
kemudian terlihat sesak nafas sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangisanpun pecah diantara mereka, semuanya tak sanggup menghadapi kenyataan
bahwa tofan telah dipanggil ke hadapan Yang Mahakuasa.
Tamat..
Thursday, 8 January 2015
Kunci Sukses
Setiap orang pasti menginginkan sukses, tapi hanya
sedikit saja orang yang benar-benar melakukan sesuatu yang berarti untuk
mencapai kesuksesannya. Kesuksesan tidak hanya diraih oleh yang pintar saja tetapi sukses akan menghampiri dan
akan akrab dengan orang yang mau berusaha, ulet, dan mau mengorbankan waktunya
untuk mencapai kesuksesan.
Saya akan membagikan tips sukses untuk kalian, saya
mendapatkan tips sukses ini dari guru IPA saya. Mungkin beliau hanya ingin
sedikit memberi nasihat diawal semester (kebetulan waktu itu hari kedua KBM
setelah liburan semester), tapi mungkin tanpa beliau sadari nasihatnya telah
sangat memotivasi kami untuk mencapai kesuksesan umumnya untuk karir dimasa
depan, khususnya dalam belajar.
Berikut kata-kata sederhana tentang kunci seseorang
untuk menuju sukses dari Bu Dra. Hj. Surtikanti yang setelah saya telaah dengan
baik, setelah saya coba sedikit mengembangkannya ternyata kata-kata ini memiliki makna yang dalam :
- Kesuksesan dimulai dari sekarang.
Kesuksesan itu dimulai sedini
mungkin, tanpa harus menunggu waktu yang tepat. Bu Kanti (begitu
sapaannya) menggambarkan jika kita
menunggu kita dewasa memiliki
istri/suami dan anak maka tidak akan ada waktu yang cukup karna fokus waktu
kita akan terbagi dua antara karir dan keluarga, belum dengan masalah-masalah
hidup lain yang biasa menghinggapi orang dewasa, dan kesuksesan itu hanya
menjadi impian semata. Orang yang hobi menunda-nunda suatu pekerjaan sampai
waktu yang tepat maka tak akan bisa ia mencapai hasil yang memuaskan, karena
sesungguhnya tak ada waktu yang tepat dan tak akan pernah ada.
- Belajar itu menuju kebaikan.
Memang tepat sekali jika belajar
itu menuju kebaikan, karena pendidikan itu merupakan kegiatan yang dilakukan
sebagai proses pendewasaan diri (menjadi lebih baik), lantas bagaimana jika ada
orang yang mengajari orang lain untuk berbuat sesuatu yang buruk, misalnya
memakai Narkoba, mencuri, dll. Itu bukan belajar melainkan menghajar, ya
menghajar..! menghajar diri sendri untuk menuju tempat yang serendah-rendahnya.
- Percaya diri modal kesuksesan.
Tanpa ada rasa percaya diri saya
rasa orang yang sangat jenius, dan memiliki pemikiran yang sangat brilianpun
tak akan mencapai kesuksesan. Sepenting itukah Percaya diri..? Ya memang sangat penting sekali , Bu Kanti
menggambarkan contoh orang yang tidak percaya diri. Saat seseorang yang tidak
percaya diri mengerjakan soal ulangan , ia akan bertanya pada orang lain apakah
jawabannya benar, dan saat ada jawaban yang berbeda dengan orang lain ia akan
menggagantinya. Padahal sebelumnya ia telah mengisi dengan jawaban yang benar.
- Seseorang yang hanya melihat tumpukan buku saja tidak akan sukses.
Mungkin kalian akan setuju jika
jawaban dari pernyataan ini adalah ‘Ya’. Buku itu di ibaratkannya alat/modal untuk
meraih mimpi, apakah kita hanya akan memandangi/mengagumi jalan sukses yang
sudah ada di depan kita, tanpa harus sesegera mungkin kitapun masuk ke lintasan
kesuksesan itu, atau malah hanya akan bertepuk tangan melihat orang-orang yang
ada di lintasan sukses itu tengah berlomba mencapai garis finish (sukses), atau
malah seperti kebanyakan orang yang saya temui dilapangan yang menganggap bahwa
sukses itu hanya di dapat oleh keturunan yang sebelumnya sukses, seperti contoh
sekarang ini banyak fenomena anak para artis yang mengikuti jejak orangtuanya
menjadi bintang baru. Dengan adanya fenomena ini orang yang pesimis akan
beranggapan “Ya iyalah dia bisa jadi artis, lha ibunya juga artis” atau “Pantas
saja dia jadi artis, emang orangnya ganteng”. Tapi jika kita mampu membuka mata
kita dan lebih optimis bahwa fenomena seperti ini hanya terjadi lebih sedikit
daripada fenomena orang sukses yang pantang menyerah, from zero to hero, from
nothing to something, dan banyak sekali istilah tentang ini.
- Setiap orang pasti bisa menjadi seperti orang lain.
Saya akan memberi berita baik bahwa
nada optimis dapat mensugesti diri kita untuk dapat menjadi seperti apa yang
kita ingin, misalnya kita selalu yakin bahwa kita akan sukses suatu saat kelak,
dan tanpa kita sadari nada optimis yang telah tertanam dalam otak kita akan
membuat kita selalu berusaha mencapai apa yang dipikirkan otak, tetapi kabar
buruknya itupun dapat berlaku pada nada pesimis yang kita miliki, misalnya saat
seseorang yang ingin menjadi menjadi juara di suatu perlombaan pesimis bahwa
akan ada banyak saingan yang jauh lebih hebat dan berbakat darinya, tanpa kita
sadari juga semangat kita sedikit demi sedikit semangat kita akan terkikis, dan
akhirnya kegagalan tanpa bisa dicegah lagi akan menghampiri dirinya. Jadi
buatlah tekad yang kuat bahwa kitapun dapat menjadi sukses seperti oranglain,
dan tanamkan di setiap inchi demi inchi sel yang ada di otak kita bahwa sukses
itu mudah, dan kitapun dapat sukses seperti orang lain.
Mungkin cukup sekian yang dapat
saya bagikan untuk kalian, mohon maaf jika ada sedikit kata yang ngawur. Wasalam...
Wednesday, 7 January 2015
Si Kecebong Mengejar Cinta eps 4
Tofan telah
sampai didepan rumahnya kemudian memasukinya, rumahnya tampak sepi mungkin
seisi rumah sudah tidur di kamarnya masing-masing. Dengan santai ia menuju
kamarnya sambil bersiul, dan saat ia hendak memutar gagang pintu kamarnya, ia
melihat bapaknya sedang melamun di kursi ruang keluarganya. Tadinya Tofan tidak mau
memperdulikannya dan memilih masuk ke kamarnya, namun karena ia merasa iba
kepada bapaknya iapun menghampiri bapaknya.
Tofan merasa
kasihan melihat bapaknya yang nampaknya
sedang memiliki banyak pikiran, itu terlihat dari raut wajah bapaknya yang
terlihat begitu gelisah dan sedang memegang kedua keningnya dengan kedua
tangannya dengan bertumpu pada pahanya. “Bapak kenapa?”, bapaknya terkaget
mendengar suara tofan dan kemudian mencoba menutupi kegelisahannya, “Eeeh.. kamu
Fan, enggak kok bapak gapapa cuma sedikit ngantuk aja”, “Bapak jangan bohong,
Tofan tau kok kalau bapak lahi banyak pikiran, coba Bapak ceritakan sama Tofan!”.
Bapak menghela nafas dan sedikit berfikir, “Pak jangan ragu-ragu Tofan siap
denger kok”, Tofan meyakinkan bapaknya yang nampak ragu, “Gini Fan sebenernya
bapak gak mau bikin kamu kepikiran sama masalah bapak, tapi kalau kamu maksa ya
sudah akan bapak ceritakan”.
Bapak
berpindah tempat duduk dan mendekati Tofan, kemudian bapak mengusap kepala
Tofan. “Kantor Bapak akan mengurangi beberapa pegawai yang sudah berumur, dan Bapakpun
nampaknya juga terancam dan akan kehilangan pekerjaan Bapak, tapi tadi sore ada
salah satu atasan bapak yang memberikan kabar baik sekaligus kabar buruk bagi
kita, dia mengatakan bapak akan tetap diberi pekerjaan tetapi Bapak akan di
mutasi ke kantor cabang di Bontang Kalimantan, dan keputusannya besok tetapi
Bapak dengar lusa Bapak harus sudah berangkat ke Bontang”, “Hah Bapak akan di mutasi ke Bontang, terus
Tofan gimana Pak, apa Tofan juga harus
ikut Bapak?”, Tofan terkejut mendengar perkataan bapaknya. “Maafkan Bapak Fan sepertinya
kamu harus ikut dengan bapak, karena Bapak akan mengumpulkan uang untuk modal
usaha kita nanti dan Bapak gak mungkin harus yang istilahnya mengisi dua dapur
sekaligus, sebenarnya Bapakpun sudah sangat mencintai rumah dan lingkungan kita”,
mendengar itu Tofan terasa seperti disambar petir jika ia harus pindah, maka
iapun harus pindah sekolah, dan jika ia harus pindah sekolah, ia juga akan
terpisah dengan Jessica yang menjadi belahan jiwanya, yang sudah lama sangat ia
cintai.
Tanpa
berkata-kata lagi ia beranjak menuju kamarnya, ia merasa sangat kecewa pada
bapaknya, dilain pihak Bapak merasa sangat bersalah karena telah menceritakan
masalahnya pada Tofan, “Fan maafkan Bapak, Bapak gak bermaksud bikin kamu
kecewa”, tanpa memperdulikan kata-kata bapaknya Tofan terus beranjak menuju
kamarnya. Tofan mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, ia
teringat dengan setiap kata demi kata yang bapaknya ucapkan tadi, ia merasa
bersalah karena tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Ia yakin menyadari
bapaknya tak menginginkan keadaan yang seperti ini. Di atas kasur itu Tofan
terus memikirkan peristiwa tadi hingga tertidur.Paginya saat ia akan berangkat
sekolah ia berniat untuk meminta maaf kepada bapaknya, namun ia tak menemukan
bapaknya, “Nanti sajalah” fikirnya, kemudian ia berangkat ke sekolah, mungkin
ini adalah hari terakhir ia di sekolahnya, karena kemungkinan besok ia sudah
akan pindah ke Bontang.
Bersambung....
nantikan episode terakhir hari sabtu ini, sedikit bocoran walau ini cerpen
humor namun akan memiliki akhir yang sedih
Subscribe to:
Posts (Atom)

