Setapak demi
setapak ia menyusuri jalan menuju sekolahnya, ia mengenang setiap kejadian yang
pernah terjadi disini, perasaan sedih mulai hinggap dalam pikirannya. Hari ini
adalah hari terakhir ia bertemu dengan teman-temannya, dan yang paling berat
adalah inilah saat terakhir ia akan melihat dan bertemu Jessica sebelum ia akan
meninggalkan tempat ini. Singkat cerita ia telah sampai di gerbang sekolahnya,
kesedihan kembali mengusik pikirannya begitu ia melihat teman-temannya yang sedang
duduk di serambi kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi, ia berjalan
menghampiri mereka. “Eh Fan kenapa lu, keliatannya kayak yang kurang semangat
gitu?”, tanya Rangga yang duduk paling ujung, “Eeh.. gapapa kok Ga”, sambil
Tofan duduk disebelahnya.
Teettt..
teeettt... bel berbunyi Tofan duduk dikursinya, saat ia sedang meletakan tasnya
di kursi tersebut Jessica berjalan melewatinya, tak ada reaksi apapun dari
Tofan ia hanya melirik, dan selebihnya ia memilih cuek. Tofan kembali harus
merasakan saat-saat yang berat dalam hidupnya, dengan hal itu Jessica merasa
aneh tak seperti biasanya, biasanya jika ia bertemu tofan pasti Tofan akan
selalu merayunya dan mengungkapkan kalimat-kalimat gombal yang biasanya selalu
membuat Jessica geli mendengarnya, tapi tidak dengan hari itu semuanya tampak
begitu berbeda.
Jessica yang
duduk tepat dibelakangnya malah menebak-nebak apa yang terjadi dengan Tofan, “Paling
dia gak dikasih duit tuh sama Emaknya, atau mungkin dia lagi sakit gigi jadi
gak banyak ngomong, eehh.. kenapa lagi gue mikirin dia terserahlah apa yang
terjadi sama dia itu bukan urusan gue”. Tapi sebetulnya hati kecil Jessica merasa
kasihan juga melihat Tofan yang tampak murung seperti itu, tapi dilain sisi ia
juga gengsi jika harus perduli pada Tofan. Teett... teett.. Bel berbunyi
menandaka kegiatan di sekolah hari itu berakhir, dan juga menandakan bahwa
itulah hari terakhir ia di sekolah.
Saat sedang
berjalan menuju keluar kelas, tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari
belakang. Tofan merasa terkejut karena ternyata itu adalah Jessica, “Eh Jes,
ada apa yah?” Tofan mencoba bersikap tetap cuek, “Eh enggak ada apa-apa kok, Cuma
kayaknya ada yang beda ya dari kamu?”, “Beda, Beda apanya? Gak ada yang beda
kok, tumben kamu mau ngobrol sama aku” Jessica merasa malu dengan perkataan
Tofan tersebut, “Eeh emm.. enggak kok, cuman mau nanya aja, ya udah yah aku mau
pulang dulu”. Jessicapun pergi dan mulai hilang dari pandangan matanya, saat
itu Tofan merasa semangat hidupnya hilang juga.
Singkat kata
Tofan telah berada di rumahnya, “Eh bapak kok jam segini udah pulang” sapa
Tofan melihat bapaknya yang sudah pulang tak seperti biasanya, “Ini Fan bapak
minta izin sama kantor buat pulang duluan, kan bapak harus menyiapkan barang-barang
dan ada beberapa berkas juga, karena tiket sudah di pesankan kantor dan kita
akan berangkat jam 9 pagi besok”, “Pak masalah itu Tofan minta maaf ya, Tofan
gak seharusnya bersikap seperti itu”. Bapak tersenyum dan mendekati Tofan
kemudian mengelus rambutnya, “Bapak ngerti kok, ini pasti berat bagi kamu,
apalagi kamu harus ninggalin siapa tuh namanya ayang Jejes ya?”, “Eh kok bapak
tau sih?” “Haha.. ya iyalah kamu kan sering mengigau manggil-manggil ayang
Jejes sambil nyiumin guling lagi”, “Ah bapak” Tofan tersipu malu dengan itu “Eh
iya pak, kan nanti Tofan pindah sekolah harus ada surat pindah sekolah dari
sekolah Tofan”, “Oh kalau itu semua sudah di urus sama Emak”, “Oh gitu”. Hari
itu mereka sekeluarga bekerja sama saling membantu membereskan barang-barang
mereka untuk dibawa ke Bontang.
Pagipun
telah tiba, mereka mulai mengumpulkan barang-barang yang akan mereka bawa di
ruang tamu. Kesedihan kembali menghampiri Tofan saat melihat teman-temannya
yang terlihat bersemangat menuju sekolah, sedangkan Tofan tengah bersedih akan
meninggalkan kampung yang telah menjadi arena bermainnya, dan juga teman-teman
yang telah lama ia kenal.
Tak terasa
jam di dinding berjalan begitu cepat, saat itu tepat pukul 8 pagi, mereka mulai
bergegas menuju bandara setelah sebelumnya Bapak mencari taxi yang akan mereka
gunakan untuk menuju bandara, dan dilain tempat Jessica merasa ada sesuatu yang
hilang dalam jiwanya melihat kursi di depannya kosong tak ada yang menduduki,
entah mengapa ia merasakan bahwa iapun mencintai Tofan. Hari itu Jessica sangat
gelisah di kelas, beberapa kali ia mengubap posisi duduknya tetapi semuanya
serba salah sampai akhirnya bel pulangpun berbunyi dan Jessica bergegas pulang.
Jessica
akhirnya sampai di rumahnya, tubuhnya terasa capai sekali, dan iapun merebahkan
tubuhnya di kursi ruang keluarganya dan menyetel televisi, saat itu ada
tayangan berita kecelakan taxi akibat rem blong di sekitar jl. Pahlawan. “Kasihan
banget yah itu orang mana sekeluarga lagi” Jessica mengomentari tayangan berita
tersebut kemudian kringg.. kringg.. handphone di sakunya berdering “Hallo Jes
mendingan lo cepet ke sini deh ke RS Citra Medika!” suara dari seberang sana
terdengar panik, “Emang ada apa Din?” ternyata itu adalah Dina teman sekelasnya,
“Tofan Jes Tofan” “Kenapa sama Tofan, kalau ngomong yang bener lu Din”, “Eeuu..
Tofan kecelakaan Jes”, “Jangan bercanda lu Din, jangan main-main kalau
ngomongg...” Jessica mulai meneteskan air matanya, tak disangka saat ia mulai
mencintai Tofan sesuatu yang buruk malah menimpa Tofan.
Dengan masih
mengenakan seragam smpnya ia buru-buru rumah sakit yang disebutkan Dina, di
dalam mobil ia terus menangis Jessica tak akan sanggup menghadapi kenyataan
terburuk yang akan menimpa Tofan, ia sangat mencintai Tofan dan menyesal telah
menyia-nyiakannya, bahkan telah sering berbuat kasar padanya.
Setibanya di
rumah sakit ia langsung menuju ruang ICU, dan saat ia berada tepat di depan
kamar Tofan terlihat kedua orang tua dengan beberapa luka dikepala dan
ditangannya dan ada beberapa teman sekelasnya disana, mereka tengah menangisi
Tofan dengan keadaan yang terlihat begitu parah. Emak Tofan berdiri dan
menghampiri Jessica, kemudian memeluknya “Neng kamu harus kuat apapun yang
terjadi, Tofan pernah bilang kalau dia sangat menyayangi dan mencintai kamu”,
Jessica menangis lebih keras dari sebelumnya “Jessica salah Mak, Jessica udah
menyia-nyiakan Tofan, Jessica malu sama Emak”, “Emak ngerti kok, Emak gak akan
nyalahin kamu Jes”.
Dokter
keluar dari kamar tersebut dengan keadaan lesu “Dok bagaimana dengan anak saya
dok?”, Bapak Tofan bertanya pada dokter dengan nada tinggi sambil ia terus
menangis. “Maaf Ibu Bapak saya harus menyampaikan kabar buruk ini pada kalian,
kemungkinan anak bapak dan ibu tak akan memiliki waktu lama lagi”, “Sekarang
kalian boleh mendekati pasien sambil berdoa memohon keajaiban”, mendengar itu
mereka menjadi semakin sedih, dan satu persatu masuk ke kamar sedangkan sebagian
menuju mushola yang ada.
“Fan ini aku
Fan kamu harus kuat, aku cinta kamu Fan, aku yakin kamu gak akan menyerah gitu
aja, Fan kamu harus kuat demi Emak kamu dan bapak kamu, dan juga demi aku”,
Tofan membuka kedua matanya dan tampaknya ia ingin bicara sesuatu, kemudian ia
membuka oksigen yang menutup mulut dan hidungnya, “Jes waa..lau nanti raga ini
taaa..k aa..kan ada di sampingmu, tapi percayaa..lah hati ini akan selalu
mencintaimu”, “Kamu jangan ngomong gitu Fan kamu pasti sembuh...” saat itu
Tofan terlihat sesak nafas, lalu Jessica mencoba memasangkan oksigen kembali
tetapi Tofan melarangnya, “Mak Ba..pak ma..afin Tofan yah, Tofan sering
ngelawan dan gak berbakti sa...ma kali..an, Tofan sayaang kkalii...an” Tofan
kemudian terlihat sesak nafas sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangisanpun pecah diantara mereka, semuanya tak sanggup menghadapi kenyataan
bahwa tofan telah dipanggil ke hadapan Yang Mahakuasa.
Tamat..
No comments:
Post a Comment