Saturday, 10 January 2015

Si Kecebong Mengejar Cinta episode terakhir



Setapak demi setapak ia menyusuri jalan menuju sekolahnya, ia mengenang setiap kejadian yang pernah terjadi disini, perasaan sedih mulai hinggap dalam pikirannya. Hari ini adalah hari terakhir ia bertemu dengan teman-temannya, dan yang paling berat adalah inilah saat terakhir ia akan melihat dan bertemu Jessica sebelum ia akan meninggalkan tempat ini. Singkat cerita ia telah sampai di gerbang sekolahnya, kesedihan kembali mengusik pikirannya begitu ia melihat teman-temannya yang sedang duduk di serambi kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi, ia berjalan menghampiri mereka. “Eh Fan kenapa lu, keliatannya kayak yang kurang semangat gitu?”, tanya Rangga yang duduk paling ujung, “Eeh.. gapapa kok Ga”, sambil Tofan duduk disebelahnya.
Teettt.. teeettt... bel berbunyi Tofan duduk dikursinya, saat ia sedang meletakan tasnya di kursi tersebut Jessica berjalan melewatinya, tak ada reaksi apapun dari Tofan ia hanya melirik, dan selebihnya ia memilih cuek. Tofan kembali harus merasakan saat-saat yang berat dalam hidupnya, dengan hal itu Jessica merasa aneh tak seperti biasanya, biasanya jika ia bertemu tofan pasti Tofan akan selalu merayunya dan mengungkapkan kalimat-kalimat gombal yang biasanya selalu membuat Jessica geli mendengarnya, tapi tidak dengan hari itu semuanya tampak begitu berbeda.
Jessica yang duduk tepat dibelakangnya malah menebak-nebak apa yang terjadi dengan Tofan, “Paling dia gak dikasih duit tuh sama Emaknya, atau mungkin dia lagi sakit gigi jadi gak banyak ngomong, eehh.. kenapa lagi gue mikirin dia terserahlah apa yang terjadi sama dia itu bukan urusan gue”. Tapi sebetulnya hati kecil Jessica merasa kasihan juga melihat Tofan yang tampak murung seperti itu, tapi dilain sisi ia juga gengsi jika harus perduli pada Tofan. Teett... teett.. Bel berbunyi menandaka kegiatan di sekolah hari itu berakhir, dan juga menandakan bahwa itulah hari terakhir ia di sekolah.
Saat sedang berjalan menuju keluar kelas, tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya dari belakang. Tofan merasa terkejut karena ternyata itu adalah Jessica, “Eh Jes, ada apa yah?” Tofan mencoba bersikap tetap cuek, “Eh enggak ada apa-apa kok, Cuma kayaknya ada yang beda ya dari kamu?”, “Beda, Beda apanya? Gak ada yang beda kok, tumben kamu mau ngobrol sama aku” Jessica merasa malu dengan perkataan Tofan tersebut, “Eeh emm.. enggak kok, cuman mau nanya aja, ya udah yah aku mau pulang dulu”. Jessicapun pergi dan mulai hilang dari pandangan matanya, saat itu Tofan merasa semangat hidupnya hilang juga.
Singkat kata Tofan telah berada di rumahnya, “Eh bapak kok jam segini udah pulang” sapa Tofan melihat bapaknya yang sudah pulang tak seperti biasanya, “Ini Fan bapak minta izin sama kantor buat pulang duluan, kan bapak harus menyiapkan barang-barang dan ada beberapa berkas juga, karena tiket sudah di pesankan kantor dan kita akan berangkat jam 9 pagi besok”, “Pak masalah itu Tofan minta maaf ya, Tofan gak seharusnya bersikap seperti itu”. Bapak tersenyum dan mendekati Tofan kemudian mengelus rambutnya, “Bapak ngerti kok, ini pasti berat bagi kamu, apalagi kamu harus ninggalin siapa tuh namanya ayang Jejes ya?”, “Eh kok bapak tau sih?” “Haha.. ya iyalah kamu kan sering mengigau manggil-manggil ayang Jejes sambil nyiumin guling lagi”, “Ah bapak” Tofan tersipu malu dengan itu “Eh iya pak, kan nanti Tofan pindah sekolah harus ada surat pindah sekolah dari sekolah Tofan”, “Oh kalau itu semua sudah di urus sama Emak”, “Oh gitu”. Hari itu mereka sekeluarga bekerja sama saling membantu membereskan barang-barang mereka untuk dibawa ke Bontang.
Pagipun telah tiba, mereka mulai mengumpulkan barang-barang yang akan mereka bawa di ruang tamu. Kesedihan kembali menghampiri Tofan saat melihat teman-temannya yang terlihat bersemangat menuju sekolah, sedangkan Tofan tengah bersedih akan meninggalkan kampung yang telah menjadi arena bermainnya, dan juga teman-teman yang telah lama ia kenal.
Tak terasa jam di dinding berjalan begitu cepat, saat itu tepat pukul 8 pagi, mereka mulai bergegas menuju bandara setelah sebelumnya Bapak mencari taxi yang akan mereka gunakan untuk menuju bandara, dan dilain tempat Jessica merasa ada sesuatu yang hilang dalam jiwanya melihat kursi di depannya kosong tak ada yang menduduki, entah mengapa ia merasakan bahwa iapun mencintai Tofan. Hari itu Jessica sangat gelisah di kelas, beberapa kali ia mengubap posisi duduknya tetapi semuanya serba salah sampai akhirnya bel pulangpun berbunyi dan Jessica bergegas pulang.
Jessica akhirnya sampai di rumahnya, tubuhnya terasa capai sekali, dan iapun merebahkan tubuhnya di kursi ruang keluarganya dan menyetel televisi, saat itu ada tayangan berita kecelakan taxi akibat rem blong di sekitar jl. Pahlawan. “Kasihan banget yah itu orang mana sekeluarga lagi” Jessica mengomentari tayangan berita tersebut kemudian kringg.. kringg.. handphone di sakunya berdering “Hallo Jes mendingan lo cepet ke sini deh ke RS Citra Medika!” suara dari seberang sana terdengar panik, “Emang ada apa Din?” ternyata itu adalah Dina teman sekelasnya, “Tofan Jes Tofan” “Kenapa sama Tofan, kalau ngomong yang bener lu Din”, “Eeuu.. Tofan kecelakaan Jes”, “Jangan bercanda lu Din, jangan main-main kalau ngomongg...” Jessica mulai meneteskan air matanya, tak disangka saat ia mulai mencintai Tofan sesuatu yang buruk malah menimpa Tofan.
Dengan masih mengenakan seragam smpnya ia buru-buru rumah sakit yang disebutkan Dina, di dalam mobil ia terus menangis Jessica tak akan sanggup menghadapi kenyataan terburuk yang akan menimpa Tofan, ia sangat mencintai Tofan dan menyesal telah menyia-nyiakannya, bahkan telah sering berbuat kasar padanya.
Setibanya di rumah sakit ia langsung menuju ruang ICU, dan saat ia berada tepat di depan kamar Tofan terlihat kedua orang tua dengan beberapa luka dikepala dan ditangannya dan ada beberapa teman sekelasnya disana, mereka tengah menangisi Tofan dengan keadaan yang terlihat begitu parah. Emak Tofan berdiri dan menghampiri Jessica, kemudian memeluknya “Neng kamu harus kuat apapun yang terjadi, Tofan pernah bilang kalau dia sangat menyayangi dan mencintai kamu”, Jessica menangis lebih keras dari sebelumnya “Jessica salah Mak, Jessica udah menyia-nyiakan Tofan, Jessica malu sama Emak”, “Emak ngerti kok, Emak gak akan nyalahin kamu Jes”.
Dokter keluar dari kamar tersebut dengan keadaan lesu “Dok bagaimana dengan anak saya dok?”, Bapak Tofan bertanya pada dokter dengan nada tinggi sambil ia terus menangis. “Maaf Ibu Bapak saya harus menyampaikan kabar buruk ini pada kalian, kemungkinan anak bapak dan ibu tak akan memiliki waktu lama lagi”, “Sekarang kalian boleh mendekati pasien sambil berdoa memohon keajaiban”, mendengar itu mereka menjadi semakin sedih, dan satu persatu masuk ke kamar sedangkan sebagian menuju mushola yang ada.
“Fan ini aku Fan kamu harus kuat, aku cinta kamu Fan, aku yakin kamu gak akan menyerah gitu aja, Fan kamu harus kuat demi Emak kamu dan bapak kamu, dan juga demi aku”, Tofan membuka kedua matanya dan tampaknya ia ingin bicara sesuatu, kemudian ia membuka oksigen yang menutup mulut dan hidungnya, “Jes waa..lau nanti raga ini taaa..k aa..kan ada di sampingmu, tapi percayaa..lah hati ini akan selalu mencintaimu”, “Kamu jangan ngomong gitu Fan kamu pasti sembuh...” saat itu Tofan terlihat sesak nafas, lalu Jessica mencoba memasangkan oksigen kembali tetapi Tofan melarangnya, “Mak Ba..pak ma..afin Tofan yah, Tofan sering ngelawan dan gak berbakti sa...ma kali..an, Tofan sayaang kkalii...an” Tofan kemudian terlihat sesak nafas sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tangisanpun pecah diantara mereka, semuanya tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa tofan telah dipanggil ke hadapan Yang Mahakuasa.
Tamat..

No comments:

Post a Comment