“Kring...
kring... kring...”, jam bekker berbunyi, namun Cecep mencoba menutupi kepalanya
dengan bantal. Tapi jam bekker itu terus berbunyi “kring... kring... kring..”,
akhirnya cecep menyerah dan mengambil jam bekker tersebut, dan ia melihat jarum
jam “Hah.. masih jam 3, pasti si kampret nih yang sengaja masang alarm jam
segini, emang sialan nih punya kakak reseh kaya dia”, Cecep menggerutu sambil
kembali menarik selimut untuk kembali tidur, karena masih terlalu pagi jika
untuk melakukan aktivitas. Cecep mencoba memejamkan matanya namun sulit sekali
untuk kembali tertidur, “Aduh.. susah banget nih buat tidur, gue isi dulu ajalah
ini perut, lagipula cacingnya udah pada demo juga nih”.
Akhirnya
Cecep memutuskan untuk keluar kamar, dengan sempoyongan ia berjalan ke arah
pintu. Saat memutar gagang pintu, dan mendorong pintu tersebut tiba-tiba ada sesuatu
yang menjatuhi kepalanya. Ternyata itu seekor cicak yang mengenai sekitar
kening dan matanya. “Bagus-bagus.... tau aja nih cicak gue lagi sial hari ini.
Eeuuhh..”, Cecep melempar cicak itu ke sembarang arah, kemudian ia duduk di
kursi makan yang berada di ruang keluarganya, memang ruang makannya terletak
menyatu dengan ruang keluarganya.
“Ada
makanan apa nih..”, Cecep membuka perlahan tudung saji tersebut, terlintas
dibenaknya. “Andaikan pas gue buka tudung saji ini isinya ada makanan-makanan
bule misalnya burger, spageti, atau minimal pizza, boleh juga kentucky di
pinggir jalan itu yang sering bikin gue ngiler pas pulang sekolah, kalau
diliat-liat ouuhh.. krenyes.. krenyess..”, Cecep menghayal sampai-sampai ia tak
menyadari tetesan demi tetesan mulai mengucur dari mulutnya yang tengah
menganga dengan tatapan kosong. Ia tersadar ketika air liurnya ternyata telah
membanjiri disekitar kursi yang ia duduki, “Apaan nih...? Air hujan...?
padahalkan tadi malem gak turun hujan”. Ia menapak-napakan kakinya ke air yang
ia sangka air hujan itu.
Kemudian
Cecep membuka tudung saji tersebut yang sempat terhenti ia buka akibat
khayalannya, kemudian sekarang ia benar-benar membukanya dan nampaklah isi dari
tudung saji tersebut yang nampaknya isi dari tudung saji tersebut tak sesuai
harapannya, ternyata isinya adalah ubi rebus satu piring penuh yang ia ketahui
direbus ibunya tadi malam. “Berharap dapet makanan bule malah dapet makanan
lokal sekaligus pedalaman, nasib-nasib tapi lumayanlah bisa buat ganjel laper”,
karena merasa lapar akhirnya Cecep menghabiskan seluruh ubi tersebut hingga
piring nampak bersih. “Ternyata kalau lagi lapar ubi juga berasa kaya burger,
hoaay... ngantuk juga akhirnya” karena haus Cecep mengambil gelas yang ada di
ujung meja dan meminumnya tapi ia merasakan seperti ada yang yang
bergerak-gerak di dalam mulutnya “Apaan nih, kok gerak-gerak gini” Cecep
menyemburkan isi di mulutnya dan terlihat cicak yang tadi ia lemparkan, Cecep
hanya mengernyitkan dahinya dan tak mau memperdulikannya, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya
dan kemudian tidur.
Cecep
terbangun saat jarum jam menunjukan pukul 06.50, itu artinya waktunya begitu
sedikit untuk berangkat ke sekolah, karena ia harus sampai ke sekolah dengan
waktu tidak kurang dari 10 menit saja. Dengan tergesa-gesa ia masuk ke kamar
mandi dan keluar 2 menit kemudian. Ia
berlari kembali ke kamarnya dan memakai pakaian seragam yang begitu kusut karena
belum sempat ia setrika, sambil mengenakan pakaian ia berlari menuju teras
rumahnya, dan memakai sepatu sambil terus menggerutu, “Emang pada jahat nih
semua orang rumah, bukannya bangunin gue”, setelah itu Cecep teringat saat
tidur, ia seperti bermimpi mendengar suara hantu yang memanggil namanya sambil
menggedor-gedor pintu, karena ia sangat penakut makannya ia menutupi kepalanya
dengan bantal, dan menghiraukan suara tersebut, “Semua orang udah gak perduli
lagi sama gue, terutama si kampret yang udah bikin gue bangun pagi”, Cecep
terus menggerutu sampai ia selesai mengenakan sepatunya, kemudian ia segera
berangkat ke sekolah yang terletak 100 meter dari rumahnya, namun sebelumnya ia
sempat melirik ke arah jam dinding “Astaga.. udah jam tujuh kurang satu menit,
jadi gue harus sampe ke sekolah gak boleh kurang dari satu menit, dan harus berlari
dengan kecepatan.....eeuu.. 1,7 m/s”, sebelum ia berlari ia sempat menghitung
berapa kecepatan lari yang harus ia lakukan dengan menghitung dalam sebuah buku
kecil yang selalu ia bawa, karena ia termasuk anak yang cerdas dalam
menghitung, kecerdasan itu ia dapat saat awal masuk smp ia sering di tipu
teman-temannya yang menawarkannya untuk menitipkan uang jajannya dan jika Cecep
ingin menjajankan uang tersebut maka temannya lah yang akan pergi ke kantin
membelikan pesanan Cecep, dan mengembalikan kembalian yang seringkali diambil
sebagian oleh temannya itu. Cecep ingin sekali menolak tapi jika ia tak ingin dikelitiki
sampai nangis oleh teman-temannya ia harus melakukan hal itu. Kemudian setelah
berhasil menghitung kecepatan yang harus ia lakukan, ia memasukan buku kecilnya
dan melihat jam tangannya ternyata waktunya hanya 30 detik lagi, ternyata
hitungannya tidak akan relevan ia sempat ingin mengambil buku kecilnya lagi
untuk menghitung kecepatan yang harus ia tempuh namun dari jauh ia melihat
pintu gerbangnya akan segera ditutup oleh Satpam penjaga sekolahnya.
Dengan
sekuat tenaga Cecep berlari, ia begitu semangat berlari dan terus berlari, ia
terus berlari dan terlihat Satpam itu mulai menutup gerbang sekolahnya, Cecep
semakin panik dengan hal itu. Tapi tiba-tiba ia terjatuh dan kakinya terperosok
ke selokan, sebagian kaki kanannya tenggelam oleh lumpur selokan tersebut,
dengan cepat ia mengangkat kakinya dan menyadari tali sepatunya belum sempat ia
ikat, namun Cecep tak menghiraukan hal tersebut malah ia melanjutkan larinya
secepat mungkin. Sedikit lagi ia akan sampai di depan gerbang sekolahnya, ia
menginjak lagi tali sepatunya, akibatnya ia terguling beberapa saat sebelum
akhirnya berhenti setelah tubuhnya menabrak gerbang dengan keras.
Satpam
yang saat itu tengah duduk posnya sambil mengorek kupingnya merasa kaget degan
hal itu, akibatnya cutten bud yang ia pakai tertancap lebih dalam ke kupingnya.
”Aaah.. sialan siapa tuh?”. Satpam keluar sambil meringis kesakitan, Cecep
ketakutan melihatnya “Ke..kenapa Pak?” Cecep sampai terbata-bata saat ia
menyapa Satpam tersebut. “Diam kamu.. aahh..” Satpam itu membentak Cecep, setelah
berusaha mengeluarkan cutten bud dari telinganya, akhirnya ia berhasil dan
terlihat begitu banyak kotoran yang menempel pada cutten bud tersebut. Cecep
merasa jijik melihatnya, itu terlihat dari raut wajahnya yang terlihat mual,
“Pantesan susah ngeluarinya, ganjelannya aja banyak begitu”, Cecep berkata
pelan mengomentari hal tersebut, tapi Satpam itu tetap mendengarnya. “Eh diam
kamu, jam berapa ini kenapa bisa terlambat, mana bau lagi... hueek..”, Satpam
itu menutup hidungnya, sambil terus berbicara. “Itu.. Pakk.. euu.. itu..
emm..”. Cecep merasa ketakutan apalagi melihat wajah sangar dengan kumis tebal
yang menambah kegarangannya.
Satpam
itu mendekati Cecep dan menatapi tajam wajah Cecep, “Kamu tahukan gimana
caranya siswa yang datang terlambat bisa masuk kesini?”, “Eng.. enggaa.. tau
Pak..” Cecep ketakutan ditatap seperti itu, “Jadi kamu belum tahu, saya kasih
tahu ya..! Kamu harus bayar tangan saya biar bisa ngebuka gembok ini, ngerti!”.
“Tapi Pak saya gak punya uang”, mendengar hal itu Satpam kembali menatap tajam
wajah Cecep. “Kalau begitu kamu harus membayar dengan cara lain” Satpam itu
memegang telapak tangan Cecep kemudian mengepalkan sesuatu ke tangan Cecep.
“Sekarang kamu pegang ini, dan kamu cuci di sana”, Cecep bingung apa yang di
maksud Satpam itu, untuk menjawab rasa penasarannya perlahan ia membuka telapak
tangannya. Ia tekaget sekaligus merasa jijik ternyata itu cutten bud milik
satpam itu, “Ayo tunggu apa lagi, sekarang kamu cuci ini”, “Ta.ta.tapi Pak
inikan harus di buang” Cecep sempat mual dibuatnya. “Enak aja sekarang yang
beginian mahal tau, atau kalau kamu gak mau saya kelitikin kamu sampai nangis”,
Satpam itu mengancam Cecep dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah
Cecep, membuat Cecep merasa geli dengan kumis tebal Satpam itu. “Ii..iya.. Pak,
eeuu.. saya milih dikelitikin sampai nangis aja Pak, saya udah biasa dikelitikin
sama temen saya dulu”, “Oke.. jangan salahin saya kalau nanti kamu gak
berhenti-berhenti nangis sampai 7 hari 10 malem” Akhirnya Satpam itu membukakan
gerbang dan mendekati Cecep, kemudian saat hendak mengulurkan kedua tangannya
ke sebelah kanan dan kiri perut Cecep ada seorang Ibu yang lewat di depan
gerbang, ibu itu sampai terheran-heran melihat tingkah laku Satpam itu,
“Keliatannya sih maco tapi kok cucok kaya gitu iihh...”, Ibu itu kemudian pergi
sambil mengangguk-anggukan bahunya.
“Jangan
disini, di pos saya saja”, Satpam itu malu di tatap si ibu seperti itu namun ia
ingin terlihat sangar didepan Cecep, Satpam itu terlebih dulu berjalan ke arah
pos satpam kemudian di ikuti Cecep dibelakangnya. Mereka kini telah ada di
dalam pos satpam, Satpam itu mengisaratkan Cecep untuk lebih dekat padanya
“Sekarang buka baju kamu”, “Ii..iya.. Pak”, kemudian Cecep membuka satu demi
satu kancing baju seragamnya, kemudian menanggalkan bajunya. Satpam itu menatap
tajam Cecep sambil mengepalkan pergelangan tangannya “Rasakan ini”, kemudian
tanpa menunggu persetujuan Cecep, Satpam itu segera melancarkan aksinya
menggelitiki Cecep, “Aaaaduhhh.... Pak.. aahh.. geliii...” Cecep merasa
kegelian dengan hal itu, namun Satpam
itu tak menghiraukannya dan melanjutkan aksinya menggelitiki Cecep. “Rasakan
ini, inikan yang kamu inginkan, hahaha..” Satpam itu tertawa bagaikan iblis
yang sedang menyiksa Cecep, lama kelamaan kedua bola mata Cecep mulai
mengeluarkan air mata, sempat terlintas di benak Cecep untuk menyerah namun ia
memilih memegang ucapanya sebelumnya, karena ia yang memilih untuk dikelitiki
daripada harus mencuci cutten bud yang penuh kotoran milik Satpam itu. Tapi
tiba-tiba Cecep merasakan ada yang bergejolak di dalam perutnya, kemudian tak
lama setelah itu tubuhnya mengejang seperti ada sesuatu yang mengalir dari
perut ke arah bokongnya, Satpam itu keheranan melihat Cecep “Eeehh... kenapa
kamu”, Cecep tak menjawabnya namun tiba-tiba ada sebuah suara yang tak mereka
ketahui namun tak lama berselang disusul oleh bau yang begitu menyengat, “Eeeh
bau apa ii..in.....ii..” Satpam itu tak mampu menyelasaikan kata-katanya karena
ia tiba-tiba tak sadarkan diri akibat bau itu, Cecep yang melihat itu
memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri kemudian masuk ke kelasnya yang
kebetulan hari itu gurunya datang terlambat, ia duduk di kursinya dan menghela
nafas panjang setelah terbebas dari satpam kejam itu.
No comments:
Post a Comment